Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Al Qur’an Dan Bahasa Arab


Al Quran dan bahasa arab merupakan sumber ilmu bagi setiap orang yang beriman, terutama bagi seorang da’i. Tanpa menguasai dua hal ini, seorang da’i tidak akan mampu menyampaikan Islam sesuai dengan aslinya. Oleh karena itu dua hal ini merupakan fondasi dalam kehidupan dakwah. Jika kita kembali ke Manhaj, sebetulnya dua hal ini sudah mendapatkan perhatian mulai dari Marhalah Tamhidi sampai Marhalah Intidzom, dan sudah selesai yakni sudah menjadi mahir di Marhalah Amil. Dan target akhir dari proses tarbiyah dengan bahasa arab dan al qur’an ini tercapainya Muwasofat Tarbawiyah, Sihhatul Ibadah dan Tsaqofatu Fikr.

Maka dalam rangka menyukseskan sasaran besar yang telah dicanangkan Depertemen Kaderisasi yakni Membudayakan Al Qur’an dan bahasa Arab di kalangan kader inti, maka diperlukan suatu kesatuan pemahaman akan urgensi Al Qur’an dan bahasa Arab, sehingga diharapkan kesiapan kader dalam melaksanakan program ini tidak semata-mata karena Sami’na Wa Atha’na, namun lebih karena didasari oleh rasa butuh yang tinggi terhadap wahyu Allah dalam kehidupan dan dakwah, begitu juga bahasa Arab yang telah dipilih oleh Allah sebagai bahasa wahyuNya.

Terdapat beberapa langkah implementatif untuk merealisasikan target ini:

1. Pengharusan mengikuti kursus bahasa Arab bagi kader inti yang belum mampu berbahasa Arab.

Pertama sekali, sebelum Anda belajar bahasa Arab tanyakanlah kepada diri Anda, ‘Apakah saya telah mencintai bahasa Arab?’ Jika belum, cobalah tumbuhkan perasaan itu dengan berbagai macam pendekatan! Kecintaan terhadap Al Qur’an berarti cinta terhadap bahasanya. Al Imam Asy Syahid ketika menganjurkan setiap Akh agar mampu berbicara dengan bahasa Arab fushah, lebih dimotivasi oleh Wahdatul Muslimin, yang sangat mungkin diikat dengan satu bahasa. Sehingga jika dari sekarang kita rintis, maka hal tersebut akan menjadi suatu keharusan bagi generasi mendatang, sampai menjadi cikal bakal terbentuknya Khilafah Islamiyyah (yang tentunya sangat membutuhkan kesatuan bahasa selain kesatuan Fikroh, Qiyadah, Manhaj dan lain sebagainya).

Setelah itu terjawab, tegaskanlah motivasi yang ada di dalam diri anda? Karena sesungguhnya akan menjadi beban yang berat jika mempelajarinya sekedar karena tuntutan program Usroh.

2. Pembiasaan berbicara bahasa Arab dan penggunaan Musthalahhaat Arobiyyah dalam Liqo Usari.

Jika kita kembali kepada Manhaj Tarbiyah 1425, maka kemampuan berbahasa Arab yang ditentukan adalah kemampuan berbicara dan menulis. Hal ini sangat diperlukan untuk menciptakan kemampuan mengakses sumber informasi yang sangat kaya dengan bahasa Arab.

3. Pengelolaan rubrik-rubrik berbahasa Arab pada media-media penerbitan internal. Program ini bermanfaat untuk mengakrabkan ikhwah dengan Bahasa Arab.

4. Pembiasaan tilawah Al Qur’an 1 juz setiap hari.

Ruhiyah seorang muslim tidak akan tumbuh dengan baik, tanpa tiap hari bersama Al Qur’an, minimal satu juz. Tarbiyah ini merujuk kepada sabda Rasulullah, “Selesaikanlah membaca Al Qur’an dalam sebulan, dan berpuasalah tiga hari dalam sebulan.” Begitu pentingnya tarbiyah ini sehingga Al Imam Asy Syahid meletakkannya di posisi pertama dalam Wajibatul Akh, “Hendaklah kamu memiliki wirid harian Al Qur’an tidak kurang dari satu juz dalam sehari, dan berusahalah jangan sampai tidak khatam dalam sebulan.”

Dengan tilawah satu juz setiap hari, maka terpenuhilah kebutuhan ruhiyah kita terrhadap Al Qur’an pada hari itu, dan tercabutlah sebutan bahwa kita termasuk orang yang menjadikan Al Qur’an mahjuron. Selain itu juga akan terpenuhi kebutuhan kita akan nasehat, tadzkirah, wad dan wa’id yang disampaikan langsung dari Al Qur’an.

5. Pengharusan kader mengikuti program Tahsin Tilawah bagi yang belum mampu.

Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah sangat bersemangat mendengar laki-laki yang bagus tilawahnya, melebihi semangatnya orang yang gemar bermusik mendengarkan nyanyiannya.” (HR Ibnu Majah)

Para ulama kemudian menetapkan, bahwa kemampuan membaca Al Qur’an yang sesuai dengan bacaan asli ketika Al Qur’an pertama kali diwahyukan oleh Jibril (yang kemudian diabadikan dalam bentuk hukum tajwid) adalah wajib ‘ain. Dan menjadi pelanggaran syar’i bagi orang yang tidak berusaha untuk mempelajarinya.

Hal ini berlandaskan firman Allah surat Al Muzzamil ayat 3, ”Bacalah Al Qur’an dengan tartil.” Ali bin Abi Thalib menfsirkan kata Tartil pada ayat ini dengan “Membacanya dengan tajwid seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan mengetahui tempat waqaf yang tepat.”

Selanjutnya Imam Al Jazari dalam rojaznya mengatakan, “Mempelajari ilmu tajwid itu suatu keharusan. Barang siapa yang tidak mentajwidkan Al Qur’an dia berdosa, karena Al Qur’an diturunkan oleh Allah dengan bacaan tajwid, dan begitulah dariNya Al Qur’an sampai kepada kami.”

6. Pembiasaan kultum di Usroh dan Halaqoh melalui tadabbur ayat-ayat Al Qur’an.

Program ini membiasakan setiap Al Akh untuk membaca Al Qur’an dengan khusyu’. Hal ini merupakan kemampuan yang lain yang harus dimiliki oleh setiap muslim selain kemampuan membacanya dengan rutin sebagai Al Wirdul Yaumiy.

Firman Allah surat Al Isra’ ayat 109, “Mereka (Orang-orang yang diberi ilmu itu, jika dibacakan Al Qur’an) menundukkan dagunya, menangis, dan semakin bertambah khusyu’.”

Membiasakan khusyu’ bersama Al Qur’an memerlukan mujahadah yang sangat tinggi. Dengan khusyu’ akan menghasilkan berbagai inspirasi dari ayat-ayat tersebut yang tidak ada habis-habisnya. Asy Syahid Sayyid Quthb mengatakan, “Al Qur’an adalah kitab yang kekal, yang menjadi sumber inspirasi yang selalu baru.”

7. Program wajib membaca dan mengkaji kitab Tafsir Al Qur’an dengan tuntas bagi Kader Inti.

Memahami Al Qur’an tidak akan sempurna tanpa mempelajari Tafsir Al Qur’an. Salafussalih kita yang sudah sangat akrab dengan bahasa Al Qur’an saja khatam berkali-kali mengkaji tafsir Al Qur’an. Imam Mujahid pernah berkata, “Aku belajar Tafsir Al Qur’an dari Ibnu Abbas tiga kali khatam, setiap kali ada yang tidak saya fahami saya menanyakannya.”

Umat Islam secara umum telah terjebak dalam sebuah konspirasi ‘Menjauhkan Ummat dari Al Qur’an’, sehingga Al Qur’an hanya mendapatkan perhatian yang sangat kecil untuk difahami. Untuk itu kita sebagai da’i harus mampu melepaskan diri dari konspirasi terselubung ini. Manhaj Tarbiyah 1425 menetapkan bahwa kajian tafsir sudah harus dimulai sejak Marahalah Muayyid sampai Marhalah Amil, yang kesemuanya tidak lebih dari 7 juz. Dengan cara inilah kita dapat sedikit mengurangi kebutahurufan kita terhadap Al Qur’an. Allah berfirman, “Dan di antara mereka ada Ummiyyun (Orang yang buta huruf) yang tidak mengetahui isi kitab sucinya kecuali angan-angan… (Qs.2:78)

8. Pembiasaan Muroja’ah Tahfizh Al Qur’an pada setiap Liqo Usari.

Selain kemampuan tilawah, khusyu’, faham dan menguasai bahasanya, maka kemampuan lain yang harus diupayakan bagi seorang da’i adalah kemampuan memindahkan ayat-ayat Allah tersebut ke dalam dadanya alias menghafal ayat-ayatnya. Para ulama menjadikan kegiatan menghafal sebagai cara mendapatkan ilmu. Mereka mengatakan, “Barang siapa yang hafal mutuun (teks), akan mendapatkan funuun (Ilmu).”

Manhaj Tarbiyah 1425 menetapkan bahwa program Tahfizh Al Qur’an sudah harus dimulai dari Marhalah Tamhidi sampai Marhalah Amil, yang kesemuanya tidak lebih dari 7 juz. Kesadaran menghafal harus diimbangi oleh kesadaran Muroja’ah. Jika setiap ilmu yang kita pelajari memerlukan Muroja’ah agar tidak hilang, maka Al Qur’an yang merupakan induk dari semua ilmu tentu lebih utama lagi untuk diMurojaah. Salafussalih kita sampai menangisi ayat-ayat yang terlupakan setelah dihafal. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran Muroja’ah dalam Tahfizh Al Qur’an.

Tahfizh Al Qur’an juga sangat berdampak kepada peningkatan kualitas ibadah dan Tsaqofah seorang muslim. Dalam rincian Muwashofat Da’i, Tahfizh selalu dimasukkan dalam kolom Sihhatul Ibadah dan Mutsaqqoful Fikr. Bahkan lebih dari itu, Tahfizh sangat berperan dalam proses tarbiyah ruhiyyah seorang da’i. Allah berfirman, “Bahkan Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas yang berada di dada orang-orang yang telah diberi ilmu, dan tidaklah menentang ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang Zhalim.” (QS.29:49)

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sedikitpun ayat-ayat Al Qur’an bagaikan sebuah rumah yang rusak (HR. At Turmudzi)

Adapun teknis murojaah yang biasa dilakukan oleh para Huffazh adalah sebagai berikut:

1. Membaca seluruh juz yang sudah dihafal berkali-kali dalam sekali duduk, dengan melihat atau tanpa melihat.

2. Mengikuti Musabaqoh Hifzhil Qur’an, karena dengan hal itu seseorang akan sangat serius melakukan Muroja’ah.

3. Membacanya di waktu shalat, karena biasanya menghasilkan konsentrasi yang maksimal.

4. Membacanya dengan mentasmi’kan di depan khalayak.

5. Dibaca bergantian secara hafalan dengan saudaranya.

6. Dibaca beramai-ramai, seperti orang membaca Surat Yasin.

oleh. Ust Abdul Aziz Abdur Rouf, Lc. Al Hafizh.

10 November 2009 - Posted by | Al Qur'an | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: