Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Nasakh Ayat Al Qur’an


Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa Al Qur’an adalah salah satu petunjuk bagi ummat Islam selain Sunnah Nabi. Tetapi ternyata tidak semua apa yang tertulis didalamnya kita laksanakan apa adanya.

Di sana ada ayat-ayat yang hukumnya sudah tidak berlaku lagi karena ada ayat yang dinasakh baik tanpa ada penggantinya—seperti ayat yang menerangkan anjuran memberikan sedekah kepada Nabi sebelum berbicara dengannya—atau diganti dengan yang lebih ringan–seperti ayat yang berkaitan dengan talaq–atau diganti dengan yang sebanding (hukum yang sama)–seperti mengganti arah kiblat dari Masjidil Aqsho ke Masjidil Haram–atau diganti dengan yang lebih berat–seperti had (hukuman) untuk orang yang zina. Sebagaimana firman Allah SWT:

ماننسخ من ءاية أو ننسها نأت بخير منها أو مثلها (Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?)

Nasakh menurut bahasa adalah menghapus atau mengganti, sedangkan menurut istilah tafsir Nasakh adalah menghapus (mengangkat) hukum Syariat dengan dalil syariat lain yang datangnya lebih akhir (dengan dalil Syariat yang baru).

Nasakh ini hanya terjadi pada masa turunnya wahyu yaitu semasa hidupnya Nabi, adapun setelah wafatnya, Allah telah menyempurnakan agama ini, jadi tidak turun wahyu dan tidak ada nasakh lagi, dan nasakh itu sendiri terjadi dalam Al Qur’an pada ayat-ayat tertentu dan sangat sedikit.

Ini adalah sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya, sebagaimana yang sudah kita ketahui awal datangnya Islam, orang-orang masih dalam kondisi bodoh dan tersesat serta akhlak yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. ketika datangnya Islam maka Allah memberikan hidayah sampai akhirnya mereka keluar dari kesesatan itu dan mengganti hukum-hukum yang terjadi pada masa jahiliyah dengan hukum-hukum Allah yaitu hukum Islam, melalui tahapan-tahapan tertentu akhirnya mereka menerima kebenaran dan meninggalkan kesesatan.

Dengan tahapan-tahapan tersebut,maka dalam Syariat Islam diperlukan adanya Naskh didalam Al Qur’an, dan tahapan ini adalah sangat bijaksana. Seandainya Allah memberikan hukum secara langsung tanpa melalui tahapan-tahapan maka orang-orang akan menjauh dan tidak mau menerima Islam. Sebagai contoh tahapan tentang larangan minum khamar, seandainya Allah langsung mengharamkannya maka tentu mereka akan menjauh, karena khamar tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan juga sebagai mata pencaharian mereka. Maka dengan kasih sayang dan kebijaksanaan Allah SWT. larangan tersebut melalui beberapa tahapan dengan cara nasakh.

Allah SWT. berfirman atas tanggapan kepada orang-orang kafir yang mengingkari adanya nasakh وإذا بدلنا ءاية مكان ءاية والله أعلم بما ينزل قالوا إنما أنت مفتر بل أكثرهم لا يعلمون (dan apabila Kami letakkan suatu ayat ditempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkanNya, mereka berkata:”sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui).

Macam-macam nasakh:

1) Menasakh ayat (tulisan) dan hukumnya

Yaitu ayat Al Qur’an yang sudah dihapus baik tulisan maupun hukumnya, sedangkan untuk mengetahui adanya ayat tersebut yaitu melalui hadits-hadits Shohih yang disampaikan oleh para sahabat Nabi.

Contohnya: dari hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ketika turun ayat yang menerangkan tentang haramnya menikahi عشر رضعات )saudara susuan yang menyusu sebanyak sepuluh kali) dengan terus menerus, hukum tersebut dihapus dan diganti dengan hukum baru yaitu dengan خمس رضاعات (yang menyusu lima kali berturut-turut), kemudian setelah mengatakan yang demikian Nabi wafat.

Hadits tersebut menerangkan tentang dihapusnya ayat yang menerangkan haramnya menikahi saudara susuan yang telah menyusu dengan ibu susuan yang sama sebanyak sepuluh kali menyusu. Jadi hukum menikahi عشر رضعات tidak berlaku lagi, karena sudah dihapus baik ayat maupun hukumnya, dan diganti dengan lima kali menyusu.

2) Menasakh hukum tanpa menghapus ayat (ayatnya masih tertulis dan dibaca)

Yaitu ayat Al Qur’an yang hukumnya sudah tidak digunakan lagi tetapi ayatnya masih tertulis didalam Al Qur’an dan masih mendapatkan pahala bagi yang membacanya.

Contohnya ayat yang menerangkan tentang anjuran memberikan sedekah sebelum berbicara dengan Nabi yaitu يأيها الذينءامنوا إذا ناجيتم الرسول فقدموا بين يدي نجواكم صدقة (hai orang-orang yang beriman, ,apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rosul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu). Ayat ini di nasakh dengan ayat yang lain yaitu

ءأشفقتم أن تقدموا بين يدي نجواكم صدقات، فإذلم تفعلوا وتاب الله عليكم فأقيم الصلاة وءاتوا الزكاة وأطيع الله ورسوله (apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rosul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah sembahyang, tunaikan zakat dan taatlah kepada Allah dan Rosulnya , dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan).

Jadi hukum dari ayat tersebut sekarang sudah tidak berlaku lagi karena ada ayat yang menggantikannya.

3) Menasakh ayat tanpa menghapus hukum (hukumnya masih berlaku walaupun ayatnya sudah tidak ada).

Yaitu suatu hukum Syari’at yangmana ayat (tulisannya) sudah tidak ada lagi tetapi hukumnya masih berlaku hingga sekarang, dan bagian ini sulit diketahui oleh kebanyakan orang, karena harus tau Hadits yang berkaitan dengan hal tersebut.

Contohnya ayat yang menerangkan adanya hukum rajam, Umar r.a berkata, Sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi Muhammad SAW. Dengan membawa yang Haq (kebenaran) dan telah diturunkan kepadanya Al Qur’an sebagai petunjuk, dahulu telah turun ayat yang menerangkan tentang hukum rajam dan kami telah membaca, meyakini, dan membenarkannya, dan Nabipun pernah melakukan itu dan kamipun begitu….

Dari hadits tersebut diterangkan bahwa dahulu pernah ada ayat yang menerangkan adanya hukum rajam tetapi ayatnya sudah tidak ada lagi dan hukumnya masih berlaku hingga sekarang.

Hikmah (manfaat) adanya nasakh:

1. Merupakan tahapan dalam mendidik ummat, dari jahiliyah kepada Islam tanpa adanya paksaan

2. Meringankan bagi orang Muslim dan menerangkan atas nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Yaitu dari bentuk amalan yang berat menjadi yang lebih ringan

3. Merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman dan menambah pahala bagi yang melaksanakan hukum yang ringan kepada yang lebih berat

Oleh: Setyawan
http://setyawaan.multiply.com/

10 November 2009 - Posted by | Al Qur'an | , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: