Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Ikhlas Modal Utama Da’wah


Ikhlas akar katanya adalah kholaso-khuluson, artinya murni dari segala kotoran. Perbuatan yang diperuntukkan sepenuhnya untuk Allah swt dan bersih dari tujuan-tujuan selain Allah swt disebut amal yang ikhlas. Masalah ini sangat sensitif bagi manusia, perasaan tidak ikhlas atau riya’ dapat dengan mudah menyelinap dalam suatu amal dengan sangat halus, sehalus rambatan semut di atas kulit kita, oleh karena itu efaluasi amal mutlak harus dilakukan setiap saat, agar segera terdeteksi apabila terdapat penyimpangan motifasi amal.

Al Imam Al Ghozali mengingatkan kita pentingnya selalu menjaga keikhlasan amal dalam tiga tahapan ;saat akan beramal, ketika amal dilaksanakan, dan saat selesai beramal. Rosulullah saw dalam rangka menjaga keihlasan amalnya setiap pagi dan petang berdo’a :”Ya Allah swt aku belindung kepadamu dari p-erbuatn syirik kepadamu ( beramal tidak ihklas ) sekecil apapun yang kami ketahui, dan kami minta ampun kepadamu dari yang tidak kami ketahui.” Ali bin Abi Tholib menjelaskan tentang indikasi orang yang berbuat tidak ikhlas ( riya’) : 1- Malas berbuat apabila sendirian, 2- Bersemangat apabila bersama orang, 3- dan menambah amalnya, jika dipuji.

Akhil kariiim…..!

Apa yang sedang kita lakukan yakni menuju ishlahul umat dengan berbagai macam kegiatan daawi, sungguh sangat besar bobotnya di sisi Allah swt, ia merupakan kegiatan yang mudah dan indah apabila terus dilandasi ikhlas karena Allah swt, apapun rinatangan dan tantangan yang menghadang perjalanan dakwah ini. Sebaliknya kegiatan da’wah ini, tidak mungkin dapat ditanggung berat bebannya, rumitnya perjalannanya apabila tidak dilandasi keikhlasan. Ada ungkapan hikmah yang pendek yang mudah kita hafalkan :” Maa Kaana lillahi yabqo, wa maa kaana lighoirihi yafna.” Semua perbuatan yang ikhlas karena Allah akan kekal, dan yang selain Allah swt akan sirna.

Sayangilah diri kita nanti di akhirat dengan ikhlas. Jangan sampai kelelahan, lapar, haus bahkan sakit karena beratnya beban kerja dakwah ini menjadi sia-sia karena ketidak ikhlasan amal. Sayangilah diri kita jangan sampai kerja dakwah kita mengantarkan kita. Alih-alih ke Sorga, namun -naudzu billah- malah ke neraka, hanya karena tidak ikhlas, karena hakikat tidak ihklas adalah syirik kepada Allah swt, dan syirik dapat menghapus amal. Ikhlash adalah gambaran aqidah yang shohihah, yang berarti sikap tajarrud seseorang dari semua motifasi selain Allah swt, dan itulah yang paling dinilai oleh Allah swt. Niat seorang nukmin lebik dari pada amalnya, Sesungguhnya hanyalah semua perbuatan itu tergantung amalnya. Makna hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa motifasi amal lebih menentukan bobot amal, dari pada amal itu sendiri. Bahkan jihad, mengajarkan Al Qur’an, berinfaq yang merupakan amal yang sangat besar nilainya di sisi Allah swt. tidak ada artinya di sisi Allah swt, bahkan menyebabkan seseorang masuk neraka karena perbuatan tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rosulullah menjelaskan dampak tidak ikhlas dalam bermal :

“Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari qiyamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatngakan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah swt bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu ? Dia menjawab, ” Aku berperang karena Engkau hingga akau mati syahid.” Allah swt berfirman :”Engkau bohong. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan,”Dia adalah orang yang gagah berani.” Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu.” Dan kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka terlungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengjarkannya serta membaca Al Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah swt bertanya.”Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?”. Dia menjawab,”Aku mempelajari ilmu dan mengjarkannya serta membaca Al Qur’an karena Mu.” Allah swt berfirman, Engkau dusta.Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, Dia adalah orang yabng alim, dan engkau membaca Al Qur’an agar dikatakan, Dia adalah Qori. Dan gelar itu sudah dikatakan kepadamu.” Kemudian diperintahkan agar diseret dengan muka terlungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya adalah orang diberi kelapangan oleh Allah swt dan juga diberi harta yang banyak. Lalu didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah swt bertanya :”Apa yang engkau perbuat denga nikmat-nikmat itu? Dia menjawab,”Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan akupun menafkahkannya karenaMu”. Allah swt berfirman,”Engkau dusta.Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan ,”Dia seorang pemurah dermawan.” Dan itu sudah dikatakan kepadamu,” Kemudian dia diperintahkan agar diseret dengan wajah terlungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka. ( HR. Muslim, An Nasa’I, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban )

Sejarah mencatat bahwa tatkala Mu’awiyah mendengar hadits ini, maka diapun menangis sesunggukan hingga pingsan. Setelah siuman, dia berkata.”Allah swt dan Rosulnya benar.

Akhil Kariiim…. !

Memeperhatikan hadits di atas, bahwa setiap bentuk kebajikan yang kita lakukan adalah hidayah dan nikmat Allah swt. yang diberikan kepada orang yang dikehendaki Allah swt, bisa jadi terdapat manusia yang pernah bertemu langsung dengan Rosulullah, namun hidupnya tidak pernah diisi oelh kebajikan walau sekali sujud saja, karena belum mendapat hidayah dari Allah swt. namun kita yang justru sangat jauh dari masa kehidupan Rosulullah, dengan mudah melaksanakan sholat, jihad, dakwah dan lain sebagaianya. Bukankah ini merupakan kenikmatan yang sangat besar dari Allah swt? Jagalah nikmat ini dengan menjaga keihlasan beramal.

Akhil Kariiim….!

Semakin besar jangkauan pekerjaan manusia, semakin besar pula membutuhkan keikhlasan, karena tanpa keikhlasan maka pekerjaan tersebut akan hancur dan hilanglah barokahnya. Al Imam Syafi’i sebagai ulama yang besar dan luas ilmunya, sehingga ilmunya menjangkau umat manusia dari dahulu sampai sekarang, namun beliau terkenal sebagai orang yang paling besar perhatiannya dalam menjaga keikhlasan beramal, beliau pernah berkata :”Andaikan orang-orang yang pernah belajar dariku, tidak seorangpun yang mengatakan bahwa aku pelajari ilmu ini dari Syafi’i.” Saaat ini kerja dakwah yang kita lakukan, Al hamdulillah telah menjangkau kehidupan masyarakat yang cukup banyak. Fenomena ini merupakan bentuk kemenangan dakwah yang disebut sebagai Ta’yiidul Mu’minin, yang akan membuka berbagai macam peluang kehidupan keduniyaan, seperti peluang mendapatkan jabatan, kekayaan dan lain sebagainya, namun di sisi lain akan berubah menjadi sumber fitnah berubah perpecahan atau permusuhan-naudzu billah- di anatara para kader dakwah tersebut, jika dari awal setiap amal daawi tidak didasari oleh keikhlasan. Maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh Imam Syafi’ini :”Andaikan semua kontribusiku dalam gerakan dakwah ini, tidak seorangpun yang tahu, bahwa kontrbusi ini, adalah dari saya.” Sehingga kerja dakwah ini tidak pernah dikotori, saling jegal untuk mereiah posisi tertntu, atau saling menjatuhkan untuk meraih peluang-peluang kekayaan, sehingga gerakan sdakwah ini menjadi ajang untuk merebut keduniaan yang sangat rendah nilainya. Pada hal seharusnya gerakan dakwah tempat manusia berlomba-lomba meraih pahala dan rahmat Allah, kalau dasar ikhlas selalu dijaga dan dipertahankan.

10 November 2009 - Posted by | Al Qur'an | , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: