Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Tilawah Atau Tahfizh ?


pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sering tersirat dalam fikiran setiap muslim yang telah memiliki kesadaran untuk berinteraksi dengan Al Qur’an secara intensif. Jadi di satu sisi kondisi ini sudah menunjukkan suatu hal yang positif, namun walaupun demikian, kesadaran ini masih sangat perlu terus ditingkatkan. Pertanyaan ini tersirat karena adanya kesadaran akan pentingnya tilawah dan tahfidz untuk dilaksanakan dengan baik, namun ia merasakan beratnya mengatur waktu dan disiplin yang tinggi, sehingga bingung, yang terkadang dirasuki was-was syetan untuk meninggalkan salah satu atau semuanya.

Tilawah dan Tahfidz sesungguhnya merupakan bentuk interaksi dengan Al Qur’an yang memiliki bentuk kesamaan, keduanya mengandalkan kegiatan membaca. Rosulullah saw. memerintahkan keduanya untuk dilaksanakan, tidak ada perbedaan dari salah satunya, bagi yang rajin tilawah dituntut tahfidz walaupun tidak harus 30 juz, begitu juga, bagi yang rajin tahfidz dituntut untuk tilawah. Ingatlah pesan Rosulullah saw. agar umatnya memiliki hafalan Al Qur’an :

“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada hafalan Al Qur’an, bagaikan rumah yang rusak” . ( HR. Turmudzi. Hasan shohih )

Perbedaannya adalah dalam interaksi tahfidz, yang dituntut adalah peningkatan kuantitas membaca, oleh karena itu hakikat tahfidz ( menghafal ) adalah upaya membaca Al Qur’an sebanyak-banyaknya. Secepat apapun kemampuan seseorang dalam menghafal Al Qur’an, kalau setelah itu tidak ada upaya untuk muroja’ah yakni mengulang-ngulang hafalannya, maka tidak akan menjadi suatu hafalan yang lengket dalam fikiran. Betapa banyak orang-orang tua di sekeliling kita yang hafal surat Yaasiin, hanya karena jumlah pembacaannya sudah mencapai ratusan bahkan ribuan kali. Umat Islam yang ada di Asia tengah seperti Tajikistan, di antara metode menghafalnya adalah, satu halaman yang akan dihafal di ulang sebanyak tiga ratus lima puluh sampai empat ratus lima puluh kali. Interaksi seperti di atas tidak akan dimiliki oleh orang yang hanya bertilawah saja. Kita berlindung kepada Allah dari ungkapan sebagian tokoh yang mengatakan :”Menghafal Al Qur’an adalah upaya membuang-buang waktu, karena mushaf dan sarana lain untuk membaca Al Qur’an sudah sangat banyak.” Apalah artinya, mushaf, kaset yang banyak kalau manusianya tidak memiliki kedekatan dengan Al Qur’an, yang dituntut dapat menyimpan Al Qur’an tidak hanya kertas dan kaset, namun hati kitapun sesungguhnya dituntut untuk dapat merekam ayat-ayat Allah. Seorang pakar Ilmu Al Qur’an Dr. Sholaah Abdul Fattah Al Kholidi dalam kitabnya Mafaatih Lit ta’amul Ma’al Qur’an. ( Kunci berinteraksi dengan Al Qur’an ) mengatakan :” Seharusnya setiap muslim memiliki tiga waktu dalam setiap harinya untuk Al Qur’an, ada waktu untuk tilawah, ada waktu untuk tadabbur dan ada waktu untuk menghafal.”

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana mengkiati waktu kita agar dapat termanfaatkan untuk semua interaksi di atas:

1. Anda harus yakin bahwa pada prinsipnya setiap orang beriman dituntut membaca dan menghafal, keduanya memiliki keutamaan dan peran yang sangat besar dalam pembinaan umat. Untuk itu tanyakan pada diri anda, Untuk apa saya tilawah dan untuk apa saya tahfizh?

2. Tentukan target yang ingin anda capai dalam tilawah secara bertahap, misalnya dua halaman, lima, sepuluh dan seterusnya sampai mencapai target ideal yang minimalnya satu juz.Begitu juga target tahfidz yang ingin anda capai, misalnya dalam tahun ini saya harus hafal satu juz, dua, tiga dan seterusnya. Sangat dianjurkan menentukan target yang paling terjangkau bagi diri kita, agar dalam pelaksanaannya, kita tidak terbebani oleh perasaan yang dapat membuat kita terbebani sbelum melakukan.

3. Tentukan waktu dan masa yang anda inginkan, misalnya untuk tilawah 15 menit, waktunya setiap maghrib, sedangkan tahfidz 15 menit, waktunya setiap subuh. Usahakanlah disiplin dengan ketentuan yang sudah anda sepakati, niscaya Allah akan memberi kemudahan dan kenikmatan Al Qur’an yang besar.

4. Lakukanlah upaya mengqodlok setiap kali anda menyalahi waktu yang telah ditetapkan. Misalnya, jika hari ini anda tidak melakukan, maka besoknya ada rapel tilawah atau tahfidz.

Hakikat mengkiati waktu adalah upaya untuk mencapai tujuan yang didamba-dambakan, masalahnya sekarang, Benarkah tilawah dan tahfidz sudah menjadi dambaan hidup anda? Mereka yang sudah berhasil melaksanakan program ini dengan baik, pada hakikatnya bukan karena mereka memiliki waktu yang lebih banyak, namun rahasianya hanyalah di balik kemauan dan kedisiplinan. Maka manfaatkanlah hidup ini dengan Al Qur’an.

oleh: Ust. Abdul Aziz Abdur rouf, LC

16 November 2009 - Posted by | Al Qur'an | ,

1 Comment »

  1. Assww, thanks for everything of tarbiyah & information

    wass

    Comment by noortjahyo | 20 March 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: