Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Kenapa Takut Beramal…?


Rasa takut dan ragu sering membuat seseorang enggan melakukan suatu perbuatan walaupun perbuatan itu baik, karena mereka sadar kurangnya ilmu yang ia miliki, terbatasnya kemampuan yang ia punya, ataupun sebab-sebab yang lainnya, jadi mereka merasa minder dan malu untuk melakukan sesuatu.

Tetapi kita harus sadar bahwa itu semua adalah talbisu iblis (tipudaya iblis), atau pengaburan hakikat yang dilakukan oleh Iblis untuk menggoda manusia. Seorang Mukmin yang baik, dengan cahaya Iman dalam hati akan berupaya keras untuk membebaskan dari rasa seperti itu, karena tak seorangpun yang bisa membantunya kecuali dirinya sendiri.

Oleh sebab itulah didalam Islam ada istilah yang disebut dengan Targhieb dan Tarhieb, Targhieb yaitu upaya menanamkan motivasi untuk melakukan kebaikan yang bersumber pada Al Qur’an, Hadits dan perkataan para Ulama’, sedangkan makna Tarhieb yaitu upaya menanamkan rasa takut terhadap amalan yang dilarang oleh Syariat islam. Keduanya tak mungkin kita pisahkan, ada Targhieb tanpa Tarhieb akan menyebabkan ketidak adanya keseimbangan dalam kehidupan, begitu juga sebaliknya.

Tentang Ilmu, tidak diragukan lagi bahwa urgensi-nya memang betul-betul tinggi dalam mewujudkan amalan yang ilmiah sebagaimana diharuskan dalam islam, dan tentang betapa pentingnya Ilmu dan betapa ditekankannya setiap Muslim dan Muslimah senantiasa menuntut ilmu, itu sudah mufakat, tetapi kalau ada seorang Muslim atau Muslimah enggan melaksanakan kewajiban atau amalan yang disyariatkan dalam Islam, hanya karena ia merasa kurangnya Ilmu, itu jelas keliru. Siapakah diantara kita yang yang mengaku telah menguasai ilmu tentang shalat secara sempurna? Tetapi apakah ada celah bagi kita untuk mengatakan,”kami tidak akan shalat terlebih dahulu, kecuali setelah menguasai ilmu tentang shalat secara sempurna!”, tentu saja tidak diperbolehkan yang demikian.

Keyakinan seperti itu terkadang menyebabkan orang meremehkan ilmu. Akhirnya, ilmu dipelajari bukan untuk diamalkan, karena amalan-amalan mereka senantiasa tertunda dengan alasan belum cukup ilmu. Dengan kata lain keyakinan seperti ini adalah pengaburan atau penyamaran makna yang dilakukan oleh setan, agar seorang Muslim dan Muslimah terjauh dari amalan Syari’at.

Memang Islam menganjurkan segala sesuatu harus dilandasi dengan ilmu, amalan tanpa ilmu maka akan menyesatkan, tetapi perkataan ini jangan disalah artikan, kalau begitu sebelum ilmunya sempurna tidak mau melakukan apa-apa. Maksud dari perkataan itu adalah kita dituntut untuk menuntut ilmu dan selalu melaksanakan sesuatu sesuai denga imu yang kita cari, walaupun kita belum mengetahui tentang amalan tersebut dengan sempurna tetapi kita dianjurkan untuk melakukannya dengan terus mencari ilmunya menuju sempurnaan, dan yang harus kita ketahui, bahwa tidak ada yang sempurna melainkan Allah semata, selain-Nya pasti ada kekurangan.

Tingkatan amal manusia yang tertinggi adalah Iman kemudian amal shaleh, kemudian ilmu. Karena manusia tak akan dapat beramal sholeh melainkan dengan ilmu yang benar. Dan kedudukan amal shaleh disisi Allah adalah sebagai manusia yang beruntung, sebagaimana firman Allah. “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr: 2-3).

Allah selalau menyertakan iman dengan amal shaleh, berarti iman yang sempurna adalah dengan amal perbuatan yang benar, dan amal yang benar haruslah dengan ilmu. Jadi antara amal dan ilmu tidak bisa kita pisahkan. Maka dari itulah para Ulama’ mengatakan, sesungguhnya manusia masuk Syurga bukan karena amalannya tetapi karena rahmat dan Kasih sayang Allah terhadap hambanya, amalan hanyalah wasilah atau perantara manusia untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT. Tetapi sekali lagi tingkatan ilmu diatas daripada amal. Disebutkan dalam kita adab-adab menuntut ilmu العلم قبل العمل (ilmu sebelum beramal).

Dari uraian tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa segala sesuatu haruslah didasarkan pada ilmu, amal tanpa ilmu akan sesat, tetapi ilmu tanpa amal akan sia-sia, seorang Ulama’ berkata,”العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah), karena amal perbuatan merupakan bentuk aplikasi daripada ilmu, kemudian apa gunanya ilmu jika tidak diamalkan?

Wallau’alam….

Oleh: SETYAWAN

26 November 2009 - Posted by | Tsaqofah Islamiyah |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: