Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Hukum Doktrin Madzhab Fiqh


Islam adalah agama yang sempurna, semua yang diperintahkan darinya berdampak baik bagi manusia di dunia maupun di akhirat kelak. Begitu juga semua larangan pasti akan berdampak buruk kepadanya. Disitulah letak bijaksananya Syari’at Islam, makanya Allah memerintahkan sesuatu menurut kadar kemampuan manusia semaksimal mungkin menjalankan perintah. Sedangkan jika melarang sesuatu bersifat mutlaq artinya semua yang dilarang oleh Allah harus kita tinggalkan walaupun itu kecil, karena akan berdampak buruk terhadap manusia.

Semua perintah dan larangan tersebut sudah Allah jelaskan semuanya didalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Karenanya wajib bagi kita untuk mengetahui serta melaksanakan apa yang terdapat didalam keduanya, tetapi untuk mengetahui suatu kesimpulan hukum Syariat yang terdapat didalamnya tidak mudah, kita harus hafal seluruh Al Qur’an beserta Tafsirnya dan juga hadits serta penjelasannya, serta faham apa yang terdapat didalamnya. Tetapi kita sekarang tidak serumit itu, karena sudah ada para pendahulu kita yang sangat berjasa terhadap kelangsungan Agama yang mulia ini, merekalah para Muhaddits dan para Fuqoha’.

Muhaddits yaitu mereka yang telah mentakhrij (meneliti) hadits-hadits Nabi apakah shahih (kuat) yang kita berdalil dengannya atau dhaif (lemah) yang tidak bisa kita jadikan dalil. Sedangkan Fuqoha’ mereka yang telah mengambil dari ayat –ayat Al Qur’an dan Hadits-hadits yang Shahih kemudian diambil suatu kesimpulan berupa hukum-hukum Syariat seperti; wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Demikianlah yang mereka lakukan demi agama kita yang mulia ini, mereka mengorbankan segalanya untuk agama, bahkan nyawa sebagai taruhannya.

Maka dari sinilah munculnya yang disebut dengan ilmu Fiqh, yaitu secara bahasa Pemahaman, sedangkan menurut istilah ilmu untuk mengetahui hukum-hukum Syari’at yang berdasarkan dalil-dalil yang terperinci (Al Qur’an dan Sunnah). Maka dari itu para Fuqoha’ tidak sama dalam menyimpulkan suatu hukum walaupun dasarnya sama karena tidak mungkin pemahaman seseorang sama dengan yang lainnya.

Maka dari sinilah munculnya madzhab, macam-macam Madzhab itu ada 4 yaitu; Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam malik, Imam syafi’ie, dan imam Ahmad. Maksud madzhab yaitu tempat kita merujuk suatu hukum tertentu, karena kita belum mampu menyimpulkan sendiri dari Al Qur’an dan Sunnah maka kita cukup mengikuti mereka. Karena mereka mampu menyimpulkan dari Al Qur’an begitu jelas dan mudah sehinnga kita bisa melakukannya.

Dari keempat madzhab tersebut kita boleh mengikuti salah satu dari mereka, karena pemahaman mereka InsyaAllah sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Tetapi sekali lagi pemahaman diantara mereka tidaklah sama.
Dari pemahaman para Ulama’ tersebut secara garis besarnya ada dua macam yaitu:

Pertama: diantara mereka sepakat tentang suatu hukum tertentu, baik secara keseluruhan atau sebagian dari mereka. misalnya: mereka sepakat bahwa shalat wajib dalam sehari semalam ada 5 yaitu, Shubuh, Dzuhur, Adhar, Maghrib dan Isya’. Mereka sepakat dan tidak ada perbedaan pendapat diantara mereka dalam hal ni.

Kedua: diantara mereka berbeda pendapat tentang suatu hukum tertentu, inilah yang dimaksud dengan Ikhtilaf Ulama’, tetapi perbedaan mereka semuaya berdasarakan AL Qur’an dan Sunnah, hanya pemahaman dari keduanya yang berbeda. Contoh: membaca do’a qunut dalam shlat shubuh, mereka ada yang mengatakan Sunnah, Makruh dan ada yang mengatakan Bid’ah.

Dalam hal perbedaan pendapat Ulama’ tentang sesuatu hukum ada dua macam; yaitu: ikhtilaf tanawwu’ (pendapat yang bermacam-macam tetapi tujuannya sama) dan ikhtilaf tadhot (pendapat yang berlawanan dengan pendapat yang lainnya).

Jika suatu hukum yang sudah disepakati oleh semua Ulama’, tidak ada jalan lain bagi kita selain mengikuti dan menjalankan hukum tersebut semaksimal mungkin. Tetapi jika suatu hukum yang mana dikalangan para Ulama’ berbeda pendapat tentangnya maka kita mengambil salah satu dari pendapat-pendapat tersebut, tanpa menyalahkan dan menjatuhkan pendapat yang lainnya.

Sebagai orang yang masih awam dan belum bisa mengambil suatu kesimpulan hukum tertentu yang langsung dari Al Quqr’an dan Sunnah maka wajib mengikuti pendapat-pendapat mereka yang sudah tersaji dalam madzhab mereka.

tetapi jika kita sudah mampu dan bisa mengambil kesimpulan suatu hukum dari Al Qur’an dan Sunnah secara langsung, (tentunya harus mengetahui Al Qur’an dan kekuatan hadits) maka boleh kita tidak mengikuti salah satu dari 4 madzhab tersebut. Jadi kita melaksanakan suatu hukum bukan lagi karena madzhab tertentu akan tetapi menurut Al Qur’an dan Hdits yang shohih, walaupun sebenarnya pendapat tersebut sesuai dengan salahsatu dari keempatnya.

Maka dari itu umat Islam tidak boleh ta’ashub bil Madzhab, atau mendoktrin salah satu madzhab tertentu, karena bisa jadi ada pendapat lain yang lebih kuat dan lebih dekat dengan pengertian Al Qur’an dan Sunnah dari pada pendapat yang kita ikuti tersebut. Dan asumsinya jika ta’ashub bil madzhab, kita menganggap madzhab yang lain tersebut salah. Padahal itu hal yang sangat tidak wajar dan tidak pantas kita lakukan terhadap Ulama’-Ulama’ terdahulu.

Jadi seandainya kita melihat saudara kita yang melakukan suatu Ibadah; shalat misalnya, yang tidak sesuai dengan yang kita lakukan maka kita tidak langsung menyalahkannya, karena bisa jadi ada pendapat yang sesuai dengan yang mereka lakukan itu, selama tidak bertentang dengan Syari’at Islam. Misalnya: ada saudara kita yang melakukan do’a Qunut pada shalat hubuh, padahal kita tidak melakukan itu, maka kita tidak boleh menyalahkannya karena ada ulama’ yang memang berpendapat membolehkannya, walaupun Hadits yang dijadikan hujjahnya berbeda, kalau kita menyalahkannya berarti sama dengan menyalahkan ulama’ Naudzubilla min dzalik.

Islam begitu sempurna, begitu memperhatikan dalam hubungan ukhuwah sesama muslim bahkan kepasa semua makhluq, maka sudah sepantasnya kita saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain selama masih dalam koridor Syari’at Islam, apa lagi pendapat-pendapat tersebut dari Ulama’ yang sudah mengorbankan seluruh hidupnya demi agama. Lalu kita siapa yang berani dan bisa menyalahkan pendapat mereka????
Kita harus bisa membedakan dalam Syariat antara yang berkenaan dengan Aqidah dan Fiqh, Aqidah tidak boleh ada perbedaan, harus satu tujuan; misalnya Allah itu Ahad (satu) قل هو االه أحد jadi jika ada yang mengatakan Allah tidak Ahad maka telah sesat dan kita wajib untuk tidak mempercayai dan mengikutinya. Sedangkan Fiqh adalah suatu pemahaman yang diambil dari Al Qur’an dan Sunnah untuk mencapai suatu kesimpulan suatu hukum, sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa pendapat itu tidak mungkin sama antara yag satu dengan yang lainnya.

Wallahu ‘Alam…
By: SETYAWAN

2 January 2010 - Posted by | Hadits | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: