Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Adab Bertamu


Sudah seyogyanya bagi seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari kemudian selalu menghormati dan memuliakan tamu-tamunya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah memuliakan tamunya”. Demikianlah perhatian Islam dalam bermu’amalah (hubungansosial). Hadits ini menerangkan tentang bagaimana adab seorang tuan rumah terhadap tamunya, tetapi bagaimana tuntunan Islam dalam bertamu?..

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika hendak bertamu atau berkunjung kerumah saudaranya, diantaranya haruslah meminta izin dan mengucapkan salam terlebih dahulu, hal ini telah tercantum dalam firman Allah SWT didalam Al Qur’an yang mulia:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan member salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja) lah, Maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih suci bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. AnNuur: 27-28)
Sewaktu jahiliyah ketika seseorang bertemu dengan saudaranya maka saling bertegursapa dengan mengucapkan: “selamat pagi!,selamat siang!, selamat malam!”, begitulah cara mereka mengucapkan selamat diantara mereka. Suatu hari ada diantara mereka berkunjung kerumah saudaranya dan langsung masuk rumahnya tanpa meminta izin terlebih dahulu, maka Allah memberikan petunjukNya melalui firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan member salam kepada penghuninya”.
Islam membatasi kita hanya boleh mengetuk pintu rumah atau menekan bel 3 kali saat bertamu, jika tuan rumah tidak membukakan pintu maka ada 2 kemungkinan; 1) Tuan rumah tidak ada di rumah, atau 2) Tuan rumah tidak siap/suka menerima tamu. Jika telah mengetuk pintu rumah atau menekan bel 3 kali tuan rumah masih diam, maka harus meninggalkan rumah tersebut. hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW:
“Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata: “ketika saya berada dalam salah satu majlis orang-orang Anshar, tiba-tiba Abu Musa datang dengan wajah cemas, kemudian beliau berkata: ”Aku telah minta izin (bertamu) kepada Umar RA sampai tiga kali dan tidak ada jawaban darinya maka aku pun segera kembali pulang”, Abu Sa’id berkata: ‘apa yang menyebabkan anda kembali pulang?’ ,akupun(Abu Musa) berkata: ‘Aku telah minta izin sebanyak tiga kali dan tidak ada jawaban untukku maka aku pun kembali’, karena saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘jika diantara kalian meminta izin (bertamu) sebanyak tiga kali dan tidak ada jawaban baginya, hendaklah kembali pulang’. Abu Said berkata: ‘demi Allah, hendaklah anda memberikan dalil, apakah ada diantara kalian yang mendengar langsung dari Nabi SAW tentang itu? ’Ubay bin Ka’ab berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang mendengar hadits tersebut melainkan hanya sebagian kecil saja, dan saya termasuk bagian itu, kemudian aku pun mengabarkan kepada Umar RA bahwasannya Rasulullah SAW bersabda tentang itu’”. (HR. Bukhari)
Dengan demikian maka dapat menghilangkan rasa su’udzoh dan prasangka buruk terhadap sesama. Sebagaimana disebutkan diakhir ayat “…itu lebih suci bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Demikianlah tuntunan yang telah diajarkan Islam kepada kita, jika hendak bertamu atau pun berkunjung, tidak diperbolehkan langsung masuk tanpa meminta izin dan mengucapkan salam terlebih dahulu, kecuali jika rumah tersebut diketahui tidak berpenghuni, maka diperbolehkan masuk jika ada keperluan yang mengharuskan masuk, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al Qur’an yang menerangkan hali ni:
“tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan danapa yang kamu sembunyikan”. (QS. AnNuur: 29).
Ini merupakan pengkhususan dari ayat sebelumnya, yaitu tidak diperbolehkan masuk rumah sebelum mendapat izin, sedangkan rumah yang tidak berpenghuni maka tidak mengapa masuk, jika ada keperluan untuknya.
Dan Jika ingin bertamu maka harus di pilih waktu yang tepat sehingga tidak menyusahkan tuan rumah, misal tidak bertamu pada malam hari. Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau biasanya datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).
Jika menginap maka batas waktu menginap bagi tamu hanya 3 hari, setelah itu tamu harus tahu diri dan meninggalkan rumah tersebut.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tamu. Jatah harinya satu hari satu malam dan bertamu selama 3 hari. Lebih dari itu berarti sedekah. Janganlah ia terus tinggal disana hingga menyusahkan tuan rumah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Waktu 3 hari sudah cukup bagi tuan rumah dalam melayani tamu, bisa dibayangkan repotnya tuan rumah jika tamu berhari-hari menginap dirumahnya. Dia harus menyediakan makanan, melayani berbicara dan lain-lain. Apalagi rumahnya kecil, kamar tamu dan kamar mandi terbatas, sementara dia harus menjaga aurat keluarganya agar tidak terlihat oleh tamu.
Jika tamu menginap melebihi 3 hari maka tuan rumah boleh mengusir secara halus agar tamu segera meninggalkan rumahnya, karena kewajiban melayani tamu maksimal 3 hari.
Begitu indahnya jika kita memahami Islam dan menjalankannya, jika sama-sama memahami adab bertamu maka tidak akan timbul saling tidak enak antara tuan rumah dan tamu. Disamping itu, begitu rinci Islam mengatur kehidupan ini, adakah agama yang lebih baik dari Islam?
Wallahua’lam bishshowab (stw)

23 November 2010 - Posted by | Tsaqofah Islamiyah | , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: