Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Mendidik Anak Sejak Dini


Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya, hatinya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Keadaan fitrahnya akan senantiasa siap untuk menerima yang baik atau yang buruk dari pendidiknya. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya ia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan Akhirat, sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan niscaya ia akan menjadi orang yang celaka dan binasa.
Berbagai media massa, baik media cetak ataupun media elektronik, memberitakan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pelajar atau pun oleh para remaja. Pelanggaran itu berupa kenakalan yang bersifat biasa (membolos sekolah) sampai kenakalan yang bersifat khusus (hubungan seks di luar nikah, penyalahgunaan narkotik dan lain sebagainya). Padahal generasi muda merupakan penerus dari pembangunan suatu bangsa. Banyak kalangan merasa khawatir tentang kemerosotan moral ini, Namun, apabila diruntut benang merahnya, hal itu bermuara pada faktor pendidikan. Suatu proses pendidikan akan berhasil apabila di antara komponen yang ada (keluarga, sekolah, dan masyarakat) saling bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.
Diantara ketiga komponen yang mempunyai pondasi terpenting tersebut, adalah keluarga. Keluarga merupakan arsitektur bagi pembentukan pribadi anak. Waktu anak banyak berkumpul dengan keluarganya. Pola tingkah laku, pikiran, sugesti ayah ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, tradisi kebiasaan sehari-hari baik sikap hidup, cara berfikir, dan filsafat hidup keluarga itu sangat besar pengaruhnya dalam proses membentuk tingkah laku dan sikap anggota keluarga, terutama anak-anak.
Hal ini disebabkan anak-anak merupakan peniru ulung yang sangat tajam baik melalui penglihatan, pendengaran dan tingkah laku lainnya dari orang-orang di sekitarnya. Apabila lahan peniruan itu bagus, maka anak akan mempunyai moral yang baik (sesuai dengan ajaran agama Islam dan sesuai dengan aturan sosial masyarakat). Dan sebaliknya, jika lingkungan peniruan itu jauh dari nuansa ajaran agama Islam, maka degan sendirinya anak akan terbentuk seperti yang ada di lingkungan dimana ia bertempat tinggal.
Agar peniruan anak tersebut sesuai dengan harapan ajaran agama Islam dan sesuai dengan aturan masyarakat maka pertama-tama yang harus diperhatikan adalah penyelamatan hubungan ibu bapak, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya terutama anak yang masih berumur sekitar enam tahun, dimana mereka belum dapat memahami kata-kata dan simbol yang abstrak. Supaya dalam kehidupan keluarganya harmonis, taat kepada agamanya, dan dapat dijadikan teladan bagi anak-anak sebagai amanah dari Allah.
Amanah berarti segala yang kita anggap milik kita itu sebenarnya bukan milik kita, hanya barang pinjaman dari pencipta kita, termasuk nyawa dan badan kita. Anak sebagai barang pinjaman (amanah) dari Allah, agar tetap terawat dengan baik, tentunya kita sebagai orang yang meminjam berusaha dengan hati-hati untuk menjaga barang yang bukan milik kita tersebut. Ibarat kita meminjam pisau kepada orang lain dan apabila barang tersebut rusak karena kelalaian kita, maka kita wajib untuk mengganti kerusakannya tersebut.
Demikian juga kita, apabila ingin mempunyai amanah berupa seorang anak, maka jalan yang terbaik adalah melalui jalan perkawinan. Sesuatu hal yang harus dipersiapkan sebelum terjadinya perkawinan yang sesuai dengan ajaran Islam bagi pelamar atau yang akan dilamar hendaknya dengan cara memilih calon pasangannya. Pilihan yang terbaik diantara pilihan yang ditawarkan sesuai sabda Rasulullah SAW, yang di riwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah adalah pasangan yang mempunyai Ad-din (agama) yang baik.
عن أبى هريرة رضى الله عنه عن النـبـى صلى الله عليه وسلّم قال: تنكح الـمرأة لأربع: لـمالـها ولحسبها وجمالـها ولديـنها فاظفر بذات الدين تربت يداك (رواه البخارى)
“Dari Abu Hurairoh r.a, bahwa Rasulullah SAW.telah bersabda: wanita itu di nikahi karena empat faktor : karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.” (HR. Bukhari )

28 December 2010 - Posted by | Tsaqofah Islamiyah | , , , , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d bloggers like this: