Sang Pejuang

Perjuangan adalah awal kesuksesan

Hukum Doktrin Madzhab Fiqh

Islam adalah agama yang sempurna, semua yang diperintahkan darinya berdampak baik bagi manusia di dunia maupun di akhirat kelak. Begitu juga semua larangan pasti akan berdampak buruk kepadanya. Disitulah letak bijaksananya Syari’at Islam, makanya Allah memerintahkan sesuatu menurut kadar kemampuan manusia semaksimal mungkin menjalankan perintah. Sedangkan jika melarang sesuatu bersifat mutlaq artinya semua yang dilarang oleh Allah harus kita tinggalkan walaupun itu kecil, karena akan berdampak buruk terhadap manusia.

Semua perintah dan larangan tersebut sudah Allah jelaskan semuanya didalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Karenanya wajib bagi kita untuk mengetahui serta melaksanakan apa yang terdapat didalam keduanya, tetapi untuk mengetahui suatu kesimpulan hukum Syariat yang terdapat didalamnya tidak mudah, kita harus hafal seluruh Al Qur’an beserta Tafsirnya dan juga hadits serta penjelasannya, serta faham apa yang terdapat didalamnya. Tetapi kita sekarang tidak serumit itu, karena sudah ada para pendahulu kita yang sangat berjasa terhadap kelangsungan Agama yang mulia ini, merekalah para Muhaddits dan para Fuqoha’.
Continue reading

Advertisements

2 January 2010 Posted by | Hadits | , , | Leave a comment

Hukum-Hukum Haidh

Haidh menurut bahasa berarti mengalir (sesuau yang mengalir) sedangkan pengertian secara syar’i adalah darah yang keluar dari bagian dalam rahim wanita pada waktu-waktu tertentu, bukan karena sakit atau terluka, tetapi ia adalah sesuatu yang telah diciptakan Allah bagi wanita. Allah menciptakannya di dalam rahim untuk memberikan makan janin saat hamil, lalu menghasilkan susu setelah kelahirannya. Jika wanita itu tidak hamil dan menyusui sementara darah ini ada dan tidak digunakan, maka keluarlah ia pada waktu-waktu tertentu yang dikenal dengan rutinitas atau datang bulan.

Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah, “Allah telah menetapkan haidh terhadap anak-anak perempuan anak Adam (manusia) sebagai makanan dan perkembangan bagi anak selama didalam rahim ibunya, sedangkan anak itu diciptakan dari air laki-laki (mani)dan perempuan (sel telur), dan disediakan makanan selama didalam rahim dengan darah haidh, ketika sudah lahir darah tersebut berubah menjadi susu (ASI) untuk menyusui sang anak, dan ketika rahim sudah kosong maka mulailah darah mengumpul kemudian keluar pada waku-waku tertentu, sebagian Ulama berkata, “demikianlah Rasulullah berwasiat untuk taat sabanyak tiga kali kepada ibu dibandingkan kepada bapak yang cukup dengan sekali”.
Continue reading

7 December 2009 Posted by | Fiqh | , , , , , , , | Leave a comment